Semua tokoh dalam cerita ini hanyalah fiktif belaka.
Keinginan manusia memang tidak ada batasnya. Ketika satu keinginan
terpenuhi keinginan lain bermunculan. Terkadang manusia cenderung
menggunakan hawa nafsunya dibanding dengan logika.
----
Hermanto, seorang pengusaha yang cukup sukses. Bukan hanya secara
finansial namun juga dalam urusan rumah tangga. Genap di usianya yang
memasuki 50 tahun. Hermanto dianugerahi kekayaan dan juga istri serta
seorang anak gadis yang cantik. Siapa sangka di balik kekayaannya
Hermanto memiliki sebuah rahasia dimana tidak ada seorang pun yang tahu.
Ternyata kekayaan yang didapat Hermanto selama ini bukan hasil jerih
payah dia sendiri. Semua merupakan hasil dari pesugihan yang di peroleh
dengan bersekutu dengan makhluk ghaib penghuni pesisir laut selatan.
Syarat pesugihan yang dilakukan oleh Hermanto bukanlah sesuatu yang
mudah karena tiap malam 1 Suro, Hermanto harus mencari tumbal gadis
perawan berusia 17 tahun. Bukan hal yang sulit mencari gadis perawan
usia 17 tahun. Namun, adalah persyaratan lainnya, yaitu harus lahir di
malam selasa kliwon.
3 hari lagi Hermanto harus memberikan tumbal kepada penghuni pesisir
laut selatan. Berulang kali Hermanto sudah diingatkan oleh suara ghaib
untuk segera memberikan tumbal. Malam itu, Hermanto semakin gelisah,
istrinya sudah terlelap di sampingnya sementara dia masih gelisah
memikirkan dirinya belum mendapat tumbal untuk persembahan penghuni laut
selatan. Dalam 2 hari dia harus mendapatkan tumbal kalau tidak semua
kekayaannya akan diambil kembali oleh penghuni laut selatan.
Kepalanya berpikir dengan keras. Sudah sebulan ini dia mencari tumbal
yang sesuai dengan kriteria namun sayang hingga mendekati harinya
Hermanto masih belum menemukan tumbal yang sesuai. Akhirnya karena
memang sudah lelah dan capai Hermanto pun terlelap. Dalam tidurnya
Hermanto bertemu dengan sosok bayangan hitam yang mengingatkannya untuk
tidak lupa pada janjinya.
“Hermanto! Ingat, sebentar lagi aku menagih janjimu. Tumbal untukku! Ingatlah darimana kekayaanmu!”
--
Pagi harinya Hermanto masih cukup gelisah. Pikirannya kacau tinggal 2
hari dan 1 malam lagi tumbal harus dia peroleh. Ketika Reni putrinya
berpamitan berangkat sekolah, Hermanto sesaat menatap anak gadisnya itu.
Ya benar Reni lahir selasa kliwon dan kini usianya sudah genap 17
tahun. Terjadi konflik batin dalam diri Hermanto. Apakah dia harus
mengorbankan anak gadisnya sendiri. Pikiran itu berkecamuk dalam
pikirannya. Reni anak gadisnya memang bisa dikatakan sebagai gadis yang
seksi di usianya yang baru masuk 17 tahun payudara Reni ditaksir
berukuran 34B, pinggul ramping dan body bak gitar spanyol, ditunjang
tinggi badan 165cm dan berat 45kg, menjadikan tubuh Reni benar-benar
sempurna.
“Loh Pa, kok malah bengong?”tanya Reni.
“Oh..gapapa kok Ren...”jawab Hermanto.
“Reni pamit yah Pa.”Sambil mencium tangan Ayahnya.
Gadis Remaja itu segera melangkah keluar. Dari belakang Hermanto hanya
dapat memandangi anak gadisnya yang mulai tumbuh menjadi wanita dewasa.
Dalam balutan rok abu-abu Hermanto dapat melihat bokong seksi putrinya
sendiri. Ada rasa sesal, juga rasa bersalah. Seakan Hermanto melakukan
dosa besar.
Hari itu, Hermanto menyuruh beberapa orang anak buahnya mencari tumbal
sesuai dengan kriteria. Namun, hingga malam tiba hasil yang diperoleh
masih juga nihil. Malam itu, akhirnya Hermanto benar-benar menyerah
mencari tumbal. Sudah cukup lama dia mencari tumbal namun hasil
pencariannya sia-sia. Hanya Reni, Reni putrinya yang dapat di korbankan.
“Ting ting ting.”Jam berbunyi menandakan jam 12 malam. Hermanto masih
terjaga. Dirinya segera beranjak ke kamar putrinya Reni. Hermanto sempat
terkejut melihat gaun tidur putrinya Reni begitu tipis dan menerawang
menampakkan lekukan-lekukan tubuh seorang remaja yang sedang mekar siap
dipetik. Hermanto duduk di pinggir ranjang putrinya Reni, ditatapnya
wajah putrinya sambil membelai rambutnya. Ditatapnya lekat-lekat
putrinya yang mulai mekar, payudara yang sudah membukit indah, pinggul
yang ramping, bokong yang membulat seksi.
“Reni maafkan Papa.”Hermanto berkata dalam hati.
Dari saku bajunya, Hermanto mengeluarkan sapu tangan dan sebotol obat
bius. Kemudian Sapu tangan itu dia bekapkan ke mulut anak gadisnya. Reni
sempat meronta, namun kesadarannya perlahan menghilang dan semakin
gelap.
--
Reni mulai memperoleh kesadarannya entah sudah berapa lama dia tertidur.
Ketika dia coba menggerakkan badannya rupa-rupanya tangan dan kaki Reni
telah terikat di ranjang di sebuah kamar yang dinding-dindingnya
dilapisi kain hitam begitu juga seluruh ornamen di ruang itu serba
hitam dan hanya diterangi cahaya lilin. Pakaian Reni sudah berubah kini
tubuhnya dibalut baju pengantin model kemben dengan panjang selutut
berwarna putih. Gaun itu tidak mampu menyembunyikan kemolekan tubuhnya,
bahkan payudara Reni nampak membusung lebih besar. Sementara ditengah
ruangan itu nampak asap mengepul. Kamar itu dipenuhi aroma kemenyan
dibakar. Reni mencoba berteriak minta tolong, namun berulang kali dia
melakukannya hasilnya sia-sia. Tubuhnya lemas tidak berdaya, perasaan
takut, cemas dan gelisah campur aduk dalam benak Reni. Apa yang akan
terjadi padanya.
“Ceklek!”pintu kamar itu terbuka.
Sepintas Reni melihat Papanya masuk ke dalam ruangan itu hanya
mengenakan kain cawat berwarna putih menutup selangkangannya. Nampak,
tubuh tua yang masih menyisakan kegagahan. Pintu kamar itu pun tertutup
lagi. Hermanto segera menuju ke tempat pembakaran menyan. Reni tidak
hanya diam berulang kali Reni memanggil-manggil papanya.
“Papa,papa,papa lepasin Reni Pa!”Berulang-ulang Reni berteriak ke
papanya namun sia-sia. Entah Papanya sengaja tidak mendengar atau memang
sengaja mengabaikannya. Reni terus berusaha mencoba melepas ikatannya,
namun sia-sia hasilnya nol. Justru, pemandangan yang ada di depan Reni
membuat Reni tidak mengerti. Papanya seoalh-olah menyembah-nyembah di
depan pembakaran kemenyan.
“Pa, papa.”Reni masih terus memanggil-manggil Papanya.
Cukup lama Reni memanggil-manggil papanya namun Hermanto tetap khusyuk
dengan ritualnya. Sejenak Hermanto bangun dari tempatnya dan menuju ke
ranjang dimana Reni diikat dengan membawa sebuah cangkir. Tanpa berkata,
Hermanto memaksa Reni meminum habis air dalam cangkir itu.
“Uhuk...”Reni tersedak.
“Pa, lepasin Reni Pa.”Reni menggeliat-liat meronta.
Hermanto tetap diam dan hanya memandangi Reni. Rontaan Reni justru
membuat Reni semakin kelihatan menggoda. Rok gaun pengantin itu tersibak
menampilkan kemulusan paha Reni. Meski kamar yangitu hanya diterangi
dengan lilin namun sangat jelas sekali keseksian tubuh Remaja bernama
Reni.
Beberapa saat kemudian Reni menjadi tenang. Hermanto kembali ke
pembakaran kemenyan duduk bersila dan menyembah-nyembah sesuatu.
Kemudian dengan tenang Hermanto melepas ikatan tangan dan kaki Reni.
Tidak ada lagi Rontaan ataupun perlawanan. Reni sepenuhnya pasrah.
Tubuhnya kini telentang di ranjang itu. Hermanto kemudian menaiki tubuh
Reni.
Dengan lembut Hermanto kemudian mencumbu Reni. Reni tidak tahu apa yang
terjadi pada dirinya dia hanya pasrah ketika Papanya mencumbui dirinya.
Bahkan ketika Papanya mencium bibirnya Reni membalas ciuman itu, lidah
keduanya pun saling beradu saling hisap. Reni hanya merasa tubuhnya
panas, terbakar birahi, entah minuman apa yang tadi dia minum. Jelas
memberi efek seperti itu. Nampak, di ranjang dalam keremangan cahaya
lilin dua insan sedang bergulat dalam balutan nafsu. Hermanto menjilati
kuping Reni, sesekali memasukkan lidah panasnya ke dalam lubang telinga
Reni. Reni kegelian dan hanya mendesah-desah tidak karuan.
“Ssss........ah.....Ssss....”desah Reni.
Hermanto semakin gencar melakukan serangan kini leher Reni tidak luptu
pula dari jilatan dan hisapan bibirnya. Reni menggelengkan kepalanya
kiri kanan menikmati permainan lidah papanya sendiri. Kedua tangan
Hermanto meremasi payudara Reni. Reni semain mendesah tidak karuan.
“Sssss...ss..ss.s.s.s.s.s.s...s.ss..hh”desah Reni sementara tangan Reni memegangi kepala Hermanto.
Penis Hermanto sudah mengeras sempurna. Beberapa kali penis yang masih
terbungkus cawat itu menggesek-gesek vagina Reni yang masih tertutup
gaun pengantinnya. Reni dapat merasakan betapa kerasnya benda itu.
“Bret!”Gaun pengantin itu ditarik dengan buas oleh Hermanto dengan buas.
Kini nampak dua buah payudara segar, dengan puting susu berwarna
kecoklatan dan baru tumbuh.
“Cup”bibir Hermanto segera mencaplok payudara kanan Reni sambil meramas
kedua payudara itu. Hermanto melakukan secara bergantian. Terkadang
puting susu Reni digigit Hermanto.
“Shsssh...ssssshhh...sh....”Reni semakin mendesah tidak karuan.
Vagina Reni sudah mulai basah, Reni merasa lubang kewanitaanya sudah
semakin banjir. Puas memainkan kedua payudara Reni, Hermanto membuka
lebar kedua paha Reni, kini terpampanglah pangkal paha Reni yang masih
tertutup celana dalam, nampak jelas tercetak basah disana. Sekali tarik
celana dalam itu pun sobek tak berbentuk. Hermanto segera mengarahkan
mulutnya ke liang senggama Reni.
“Ah........ah.....”Reni semakin tidak karuan tangannya menjambak apa
saja di sekitarnya. Ranjang itu kini benar-benar berantakan. Sama
seperti Reni, yang sudah terbuka payudara dan vaginanya. Hermanto masih
asyik menghisapi vagina Reni.
“Ah.....ah....”Reni mendesah tidak karuan.
Tangan Reni memagang erat kepala Hermanto dan tidak berapa lama kemudian
Reni merasa akan ada sesuatu yang keluar. Pahanya menegang, sekujur
tubuhnya pun demikian.
“Ahhhhhhhhhhhh......................”Reni mendesah panjang. Tubuhnya
mengejang. Cairan kewanitaan Reni dihisap dengan Rakus oleh Hermanto
sampai kering.
Tubuh Reni benar-benar lemas, seluruh badannya dipenuhi keringat. Gaun
pengantin itu pun masih menempel di pinggang Reni, nampak tidak karuan.
Hermanto segera melepas cawatnya dan segera menaiki lagi tubuh Reni.
Kali ini, Hermanto menempatkan penisnya tepat di pangkal paha Reni.
Tepat di bibir vagina Reni. Reni menatap sayu Papanya, seakan meminta
untuk segera dimasuki. Setengah jongkok Hermanto mengarahkan kepala
penisnya ke dalam lubang vagina Reni. Dengan dipandu tangan kanannya,
Hermanto mengarahkan penisnya ke dalam lubang senggama anak gadisnya.
Sekali gagal. Kedua kalinya Penis itu sudah di telan bibir vagina Reni.
Pelan dan pasti Hermanto memaju-mundurkan pinggulnya hingga penisnya
tertelan semakin dalam. Hermanto merasakan ada yang menghalangi penisnya
masuk lebih dalam. Kemudian dengan sekali dorongan keras.
“Bles!”Penis Hermanto telah merangsek sempuran di dalam tubuh Reni.
“Engh.......”Reni meringis tertahan ketika selaput daranya terobek penis Papanya.
Darah segar mengalir dari sela-sela bibir vagina Iren bercampur dengan
cairan kewanitaannya. Dengan tempo konstan dan stabil Hermanto memacu
tubuh anak gadisnya.
“Ah...ah...ah...ah....”Reni mendesah-desah seiring genjotan Papanya di atas tubuhnya.
“Ah....en...nyak.....ah.....shsshshsh.....”Reni semakin mendesah tidak karuan.
Reni benar-benar terhanyut dalam permainan birahi Papanya. Reni tidak
sadar dirinya hanya menjadi tumbal untuk kekayaan Papanya. Kedua ayah
dan anak itu
semakin terbuai dengan panasnya nafsu.
“Ah....ah....ah....”Reni terus mendesah tidak karuan.
“Plop...”bunyi penis Hrmanto terlepas dari lubang senggama Reni.
Tubuh telentang Reni kemudian di miringkan oleh Hermanto. Hermanto
kemudian berbaring dibelakang Reni kemudian Hermanto mengarahkan
Penisnya ke lubang
vagina Reni dari samping.
“Bles!”Penis itu amblas ke dalam lubang vagina Reni.
“Plok...plok..”bunyi pinggul beradu.
“Ah...ah...ah...”Reni mendesah-desah untuk kesekian kalinya.
Hermanto masih saja belum puas. Tanpa melepas penisnya, ditelungkapkan
tubuh Reni kemudian dengan penuh semangat Hermanto kembali memacu
penisnya di dalam vagina Reni. Kini nampak seorang yang sudah setengah
baya sedang menyetubuhi seorang remaja. Tidak lama Reni merasakan
vaginanya berdenyut-denyut rupanya Reni akan segera mencapai klimaksnya.
Sedetik kemudian lahar panas dari dalam vagina Reni, menggenangi penis
Hermanto yang masih asyik menjajah lubang
vaginanya. Sejenak Hermanto menghujamkan penisnya dalam-dalam menghentikan gerakannya membiarkan Reni menikmati momen itu.
“Ah.......................”Reni melenguh panjang menikmati orgasmenya.
Hermanto kemudian menggenjot lagi vagina Reni, genjotan Hermanto semakin
lama semain tidak terkendali. Semakin cepat dan semakin cepat. Reni
merasa dnding vaginanya ngilu mendapat serangan cepat seperti itu.
Tidak berapa lama Hermanto menekan penisnya dalam hingga mentok dan kemudian.
“Crot...crot...crot....”sperma Hermanto memenuhi sekuruh Rahim anak
gadisnya Reni. Tubuh Hernato kemudian ambruk menindih tubuh Reni.
Keduanya akhirnya terlelap. Entah apa yang akan terjadi esok.
Budayakan Komen dan jangan lupa GRP nya 



1 komentar:
Assalamualaikum wrb,saya Sri Wardani asal Solo niat saya hanya ingin berbagi kebaikan khusus kepada orang yang mengalami kesusahan,percaya tidak percaya semua kembali pada pembaca postingan saya,awalnya saya seorang pengusaha yang bisa dibilang sukses,tapi banyak yang tidak suka kalau saya sukses,bisnis saya bangkrut dan saya sempat jadi pemulung saya punya anak dua dan mash kecil2,saya sempat putus asa dan tidak tau mau berbuat apa,saya sempat putus asa dan saya sempat mau mengakhiri hidup,tapi setiap saya melihat anak saya semua putus asa saya hilang,tampa disengaja ada seseorang member saya saran dia menyarangkan saya untuk menghubungi Ki Abdullah,beliau memberikan saran yang tidak melenceng dari ajaran agama,awalnya sih saya ragu tai sayaberanikan diri menciba saran dari Aki,syukur Alhamdulillah dengan saran beliau saya sekarang sukses kembali dan saya bisa biayai sekolah anak saya sampai selesai,teimah kasih Ki berkat aki saya bisa sukses kembali,ini pengalaman pribadi saya khusus bagi teman2 yang sempat baca dan punya masalah silahkan hub Aki Abdullah di nomor 0823-3975-5544 insya allah dikasi solusi ,ini pengalaman saya khusus yang serius saja silahkan hub beliau,terimah kasih kepada yang punya room ini karna saya sempat berbagi pengalaman dan mudah2han bisa membantu,assalamualaikum wrb.
Posting Komentar