Cerita tante girang emang gak ada habisnya, selalu saya menarik untuk
di ikuti, dalam perjalanan blog ini, sudah banyak cerita-cerita tante
girang yang kami berikan, dan semua cerita itu mendapatkan banyak aplous
dari pembaca, untuk itu , atas rasa terima kasih kami, kami berikan
lagi cerita dari seorang tante girang bernama Chintya.

Panggil saja namaku Aldi. Usiaku saat ini 27 tahun. Dikampungku ada
seorang janda berusia 46 tahun, namanya panggil aja Tente Chintya. Meski
usianya sudah kepala empat dan sudah punya 3 orang anak yang sudah
besar-besar, namun tubuhnya masih tetap tampak bagus dan terawat.
Tante Chintya mempunyai wajah yang cantik dengan rambut sebahu.
Kulitnya putih bersih. Selain itu yang membuatku selama ini terpesona
adalah payudara tante Chintya yang luar biasa montok. Perkiraanku
payudaranya berukuran 36C. Ditambah lagi pinggul aduhai yang dimiliki
oleh janda cantik itu. Bodi tante Chintya yang indah itulah yang
membuatku tak dapat menahan birahiku dan selalu berangan-angan bisa
menikmati tubuhnya yang padat berisi. Setiap melakukan onani, wajah dan
tubuh tetanggaku itu selalu menjadi inspirasiku.
Pagi itu jam sudah menunjukan angka tujuh. Aku sudah bersiap untuk
berangkat ke kampus. Motor aku jalankan pelan keluar dari gerbang rumah.
Dikejauhan aku melihat sosok seorang wanita yang berjalan sendirian.
Mataku secara reflek terus mengikuti wanita itu. Maklum aja, aku
terpesona melihat tubuh wanita itu yang menurutku aduhai, meskipun dari
belakang. Pinggul dan pantatnya sungguh membuat jantungku berdesir. Saat
itu aku hanya menduga-duga kalau wanita itu adalah tante Chintya.
Bersamaan dengan itu, celanaku mulai agak sesak karena kon**lku mulai
tidak bisa diajak kompromi alias ngaceng berat.
Perlahan-lahan motor aku arahkan agak mendekat agar yakin bahwa wanita itu adalah tante Chintya.
“Eh tante Chintya. Mau kemana tante?” sapaku.
Tante Chintya agak kaget mendengar suaraku. Tapi beliau kemudian tersenyum manis dan membalas sapaanku.
“Ehm.. Kamu Ron. Tante mau ke kantor. Kamu mau ke kampus?” tante Chintya balik bertanya.
“Iya nih tante. Masuk jam delapan. Kalau gitu gimana kalau tante saya
anter dulu ke kantor? Kebetulan saya bawa helm satu lagi,” kataku sambil
menawarkan jasa dan berharap tante Chintya tidak menolak ajakanku.
“Nggak usah deh, nanti kamu terlambat sampai kampus lho”
Suara tante Chintya yang empuk dan lembut sesaat membuat penisku semakin menegang.
“Nggak apa-apa kok tante. Lagian kampus saya kan sebenarnya dekat,”
kataku sambil mataku selalu mencuri pandang ke seluruh tubuhnya yang
pagi itu mengenakkan bletzer dan celana panjang. Meski tertutup oleh
pakaian yang rapi, tapi aku tetap bisa melihat kemontokan payudaranya
yang lekukannya tampak jelas.
“Benar nih Aldi mau nganterin tante ke kantor? Kalau gitu bolehlah tante
bonceng kamu,” kata tante Chintya sambil melangkahkan kakinya
diboncengan.
Aku sempat agak terkejut karena cara membonceng tante yang seperti
itu. Tapi bagaimanapun aku tetap diuntungkan karena punggungku bisa
sesekali merasakan empuknya payudara tante yang memang sangat aku
kagumi. Apalagi ketika melewati gundukan yang ada di jalan, rasanya buah
dada tante semakin tambah menempel di punggungku. Pagi itu tante
Chintya aku anter sampai ke kantornya. Dan aku segera menuju ke kampus
dengan perasaan senang.
Waktu itu hari sabtu. Kebetulan kuliahku libur. Tiba-tiba telepon di
sebelah tempat tidurku berdering. Segera saja aku angkat. Dari seberang
terdengar suara lembut seorang wanita.
“Bisa bicara dengan Aldi?”
“Iya saya sendiri?” jawabku masih dengan tanda tanya karena merasa asing dengan suara ditelepon.
“Selamat pagi Aldi. Ini tante Chintya!,” aku benar-benar kaget bercampur aduk.
“Se.. Selamat.. Pa.. Gi tante. Wah tumben nelpon saya. Ada yang bisa saya bantu tante?” kataku agak gugup.
“Pagi ini kamu ada acara nggak Ron? Kalau nggak ada acara datang ke
rumah tante ya. Bisa kan?” Pinta tante Chintyay dari ujung telepon.
“Eh.. Dengan senang hati tante. Nanti sehabis mandi saya langsung ke
tempat tante,” jawabku. Kemudian sambil secara reflek tangan kiriku
memegang kon**lku yang mulai membesar karena membayangkan tante Chintya.
“Baiklah kalau begitu. Aku tunggu ya. Met pagi Aldi.. Sampai nanti!”
suara lembut tante Chintya yang bagiku sangat menggairahkan itu akhirnya
hilang diujung tepelon sana.
Pagi itu aku benar-benar senang mendengar permintaan tante Chintya
untuk datang ke rumahnya. Dan pikiranku nglantur kemana-mana. Sementara
tanganku masih saja mengelus-elus penisku yang makin lama, makin
membesar sambil membayangkan jika yang memegang kon**lku itu adalah
tante Chintya. Karena hasratku sudah menggebu, maka segera saja aku
lampiaskan birahiku itu dengan onani menggunakan boneka didol montok
yang aku beli beberapa bulan yang lalu.
Aku bayangkan aku sedang bersetubuh dengan tante Chintya yang sudah
telanjang bulat sehingga payudaranya yang montok menunggu untuk dikenyut
dan diremas. Mulut dan tanganku segera menyapu seluruh tubuh boneka
itu.
“Tante.. Tubuhmu indah sekali. Payudaramu montok sekali tante. Aaah..
Ehs.. Ah,” mulutku mulai merancau membayangkan nikmatnya ML dengan
tante Chintya.
Karena sudah tidak tahan lagi, segera saja batang penisku, kumasukkan
ke dalam vagina didol itu. Aku mulai melakukan gerakan naik turun
sambil mendekap erat dan menciumi bibir boneka yang aku umpamakan
sebagai tante Chintya itu dengan penuh nafsu.
“Ehm.. Ehs.. Nikmat sekali sayang..” kon**lku semakin aku kayuh dengan cepat.
“Tante.. Nikmat sekali memekmu. Aaah.. Punyaku mau keluar sayang..” mulutku meracau ngomong sendiri.
Akhirnya tak lama kemudian penisku menyemburkan cairan putih kental
ke dalam lubang vagina boneka itu. Lemas sudah tubuhku. Setelah
beristirahat sejenak, aku kemudian segera menuju ke kamar mandi untuk
membersihkan kon**l dan tubuhku.
Jarum jam sudah menunjuk ke angka 8 lebih 30 menit. Aku sudah selesai mandi dan berdandan.
“Nah, sekarang saatnya berangkat ke tempat tante Chintya. Aku sudah
nggak tahan pingin lihat kemolekan tubuhmu dari dekat sayang,” gumamku
dalam hati.
Kulangkahkan kakiku menuju rumah tante Chintya yang hanya berjarak
100 meter aja dari rumahku. Sampai di rumah janda montok itu, segera
saja aku ketuk pintunya.
“Ya, sebentar,” sahut suara seorang wanita dari dalam yang tak lain adalah tante Chintya.
Setelah pintu dibuka, mataku benar-benar dimanja oleh tampilan sosok
tante Chintya yang aduhai dan berdiri persis di hadapanku. Pagi itu
tante mengenakan celana street hitam dipadu dengan atasan kaos ketat
berwarna merah dengan belahan lehernya yang agak ke bawah. Sehingga
nampak jelas belahan yang membatasi kedua payudaranya yang memang montok
luar biasa. Tante Chintya kemudian mengajakku masuk ke dalam rumahnya
dan menutup serta mengunci pintu kamar tamu. Aku sempat dibuat heran
dengan apa yang dilakukan janda itu.
“Ada apa sih tante, kok pintunya harus ditutup dan dikunci segala?” tanyaku penasaran.
Senyuman indah dari bibir sensual tante Chintya mengembang sesaat mendengar pertanyaanku.
“Oh, biar aman aja. Kan aku mau ajak kamu ke kamar tengah biar lebih
rilek ngobrolnya sambil nonton TV,” jawab tante Chintya seraya
menggandeng tanganku mengajak ke ruangan tengah.
Sebenarnya sudah sejak di depan pintu tadi penisku tegang karena
terangsang oleh penampilan tante Chintya. Malahan kali ini tangan
halusnya menggenggam tanganku, sehingga kon**lku nggak bisa diajak
kompromi karena semakin besar aja. Di ruang tengah terhampar karpet biru
dan ada dua bantal besar diatasnya. Sementara diatas meja sudah
disediakan minuman es sirup berwarna merah. Kami kemudian duduk
berdampingan.
“Ayo Ron diminum dulu sirupnya,” kata tante padaku.
Aku kemudian mengambil gelas dan meminumnya.
“Ron. Kamu tahu nggak kenapa aku minta kamu datang ke sini?” tanya
tante Chintya sambil tangan kanan beliau memegang pahaku hingga
membuatku terkejut dan agak gugup.
“Ehm.. Eng.. Nggak tante,” jawabku.
“Tante sebenarnya butuh teman ngobrol. Maklumlah anak-anak tante sudah
jarang sekali pulang karena kerja mereka di luar kota dan harus sering
menetap disana. Jadinya ya.. Kamu tahu sendiri kan, tante kesepian.
Kira-kira kamu mau nggak jadi teman ngobrol tante? Nggak harus setiap
hari kok..!,” kata tente Chintya seperti mengiba.
Dalam hati aku senang karena kesempatan untuk bertemu dan berdekatan
dengan tante akan terbuka luas. Angan-angan untuk menikmati pemandangan
indah dari tubuh janda itu pun tentu akan menjadi kenyataan.
“Kalau sekiranya saya dibutuhkan, ya boleh-boleh aja tante. Justru
saya senang bisa ngobrol sama tante. Biar saja juga ada teman. Bahkan
setiap hari juga nggak apa kok”
Tante tersenyum mendengar jawabanku. Akhirnya kami berdua mulai
ngobrol tentang apa saja sambil menikmati acara di TV. Enjoi sekali.
Apalagi bau wangi yang menguar dari tubuh tante membuat angan-anganku
semakin melayang jauh.
“Ron, udara hari ini panas ya? Tante kepanasan nih. Kamu kepanasan nggak?” tanya tante Chintya yang kali ini sedikit manja.
“Ehm.. Iya tante. Panas banget. Padahal kipas anginnya sudah dihidupin,”
jawabku sambil sesekali mataku melirik buah dada tante yang agak
menyembul, seakan ingin meloncat dari kaos yang menutupinya.
Mata Tante Chintya terus menatapku hingga membuatku sedikit grogi,
meski sebenarnya birahiku sedang menanjak. Tanpa kuduga, tangan tante
memegang kancing bajuku.
“Kalau panas dilepas aja ya Ron, biar cepet adem,” kata tante Chintya
sembari membuka satu-persatu kancing bajuku, dan melepaskannya hingga
aku telanjang dada..
Aku saat itu benar-benar kaget dengan apa yang dilakukan tante
padaku. Dan aku pun hanya bisa diam terbengong-bengong. Aku tambah
terheran-heran lagi dengan sikap tente Chintya pagi itu yang memintaku
untuk membantu melepaskan kaos ketatnya.
“Ron, tolongin tante dong. Lepasin kaos tante. Habis panas sih..,”
pinta tante Chintya dengan suara yang manja tapi terkesan menggairahkan.
Dengan sedikit gemetaran karena tak menyangka akan pengalaman nyataku
ini, aku lepas kaos ketat berwarna merah itu dari tubuh tante Chintya.
Dan apa yang berikutnya aku lihat sungguh membuat darahku berdesir dan
penisku semakin tegang membesar serta jantung berdetak kencang. Payudara
tante Chintya yang besar tampak nyata di depan mataku, tanpa terbungkus
kutang. Dua gunung indah milik janda itu tampak kencang dan padat
sekali.
“Kenapa Ron. Kok tiba-tiba diam?” tanya tante Chintya padaku.
“E.. Em.. Nggak apa-apa kok tante,” jawabku spontan sambil menundukkan kepala.
“Ala.. enggak usah pura-pura. Aku tahu kok apa yang sedang kamu pikirkan
selama ini. Tante sering memperhatikan kamu. Aldi sebenarnya sudah lama
pingin ini tante kan?” kata tante sambil meraih kedua tanganku dan
meletakkan telapak tanganku di kedua buah dadanya yang montok.
“Ehm.. Tante.. Sa.. Ya.. Ee..,” aku seperti tak mampu menyelesaikan
kata-kataku karena gugup. Apalagi tubuh tante Chintya semakin merapat ke
tubuhku.
“Ron.. Remas susuku ini sayang. Ehm.. Lakukan sesukamu. Nggak usah
takut-takut sayang. Aku sudah lama ingin menimati kehangatan dari
seorang laki-laki,” rajuk tante Chintya sembari menuntun tanganku
meremas payudara montoknya.
Sementara kegugupanku sudah mulai dapat dikuasai. Aku semakin
memberanikan diri untuk menikmati kesempatan langka yang selama ini
hanya ada dalam angan-anganku saja. Dengan nafsu yang membara, susu
tante Chintya aku remas-remas. Sementara bibirku dan bibirnya saling
berpagutan mesra penuh gairah. Entah kapan celanaku dan celana tante
lepas, yang pasti saat itu tubuh kami berdua sudah polos tanpa selembar
kainpun menempel di tubuh. Permaianan kami semakin panas. Setelah puas
memagut bibir tante, mulutku seperti sudah nggak sabar untuk menikmati
payudara montoknya
“Uuhh.. Aah..” Tante Chintya mendesah-desah tatkala lidahku menjilat-jilat ujung puting susunya yang berbentuk dadu.
Aku permainkan puting susu yang munjung dan menggiurkan itu dengan
bebasnya. Sekali-kali putingnya aku gigit hingga membuat Tante Chintya
menggelinjang merasakan kenikmatan. Sementara tangan kananku mulai
menggerayangi ‘vagina’ yang sudah mulai basah. Aku usap-usap bibir
vagina tante dengan lembut hingga desahan-desahan menggairahkan semakin
keras dari bibirnya.
“Ron.. Nik.. Maat.. Sekali sa.. Yaang.. Uuuhh.. Puasilah tante
sayang.. Tubuhku adalah milikmu,” suara itu keluar dari bibir janda
montok itu.
Aku menghiraukan ucapan tante karena sedang asyik menikmati tubuh
moleknya. Perlahan setelah puas bermain-main dengan payudaranya mulutku
mulai kubawa ke bawah menuju vagina tante Chintya yang bersih terawat
tanpa bulu. Dengan leluasa lidahku mulai menyapu vagina yang sudah basah
oleh cairan.
Aku sudah tudak sabar lagi. Batang penisku yang sudah sedari tadi
tegak berdiri ingin sekali merasakan jepitan vagina janda cantik nan
montok itu. Akhirnya, perlahan kumasukkan batang penisku ke celah-celah
vagina. Sementara tangan tante membantu menuntun tongkatku masuk ke
jalannya. Kutekan perlahan dan..
“Aaah..” suara itu keluar dari mulut tante Chintya setelah penisku berhasil masuk ke dalam liang senggamanya.
Kupompa penisku dengan gerakan naik turun. Desahan dan erangan yang
menggairahkanpun meluncur dari mulut tante yang sudah semakin panas
birahinya.
“Aach.. Ach.. Aah.. Terus sayang.. Lebih dalam.. Lagi.. Aah.. Nik.. Mat..,” tante Chintya mulai menikmati permainan itu.
Aku terus mengayuh penisku sambil mulutku melumat habis kedua buah
dadanya yang montok. Mungkin sudah 20 menitan kami bergumul. Aku merasa
sudah hampir tidak tahan lagi. Batang kemaluanku sudah nyaris
menyemprotkan cairan sperma.
“Tante.. Punyaku sudah mau keluar..”
“Tahan seb.. Bentar sayang.. Aku jug.. A.. Mau sampai.. Aaach..” akhirnya tante Chintya tidak tahan lagi.
Kamipun mengeluarkan cairan kenikmatan secara hampir bersamaan.
Banyak sekali air mani yang aku semprotkan ke dalam liang senggama
tante, hingga kemudian kami kecapekan dan berbaring di atas karpet biru.
“Terima kasih Aldi. Tante puas dengan permainan ini. Kamu benar-benar
jantan. Kamu nggak nyeselkan tidur dengan tante?” tanya beliau padaku.
Aku tersenyum sambil mencium kening janda itu dengan penuh sayang.
“Aku sangat senang tante. Tidak kusangka tante memberikan kenikmatan
ini padaku. Karena sudah lama sekali aku berangan-angan bisa menikmati
tubuh tante yang montok ini”
Tante Chintya tersenyum senang mendengar jawabanku.
“Aldi sayang. Mulai saat ini kamu boleh tidur dengan tante kapan
saja, karena tubuh tante sekarang adalah milikmu. Tapi kamu juga janji
lho. Kalau tante kepingin.. Aldi temani tante ya.,” kata tante Chintya
kemudian.
Aku tersenyum dan mengangguk tanda setuju. Dan kami pun mulai saling
merangsang dan bercinta untuk yang kedua kalinya. Hari itu adalah hari
yang tidak pernah bisa aku lupakan. Karena angan-anganku untuk bisa
bercinta dengan tante Chintya dapat terwujud menjadi kenyataan. Sampai
saat ini aku dan tante Chintya masih selalu melakukan aktivitas sex
dengan berbagai variasi. Dan kami sangat bahagia.



0 komentar:
Posting Komentar