popcash

POPADS

close
--> />

Senin, 25 Juli 2016

BOKEP INDONESIA CERITA BOKEP MENIKMAT KAKAK SENDIRI

Idun pagi itu sedang menonton tv, anak kelas 5 sd itu sedang asyik menonton film kartun kesukaannya. Minggu itu ia memilih di rumah saja. Beberapa menit ia menikmati film kartun, tiba tiba, listrik di rumahnya mati. “Bu, kok mati lampu?”, “Iya, lagi di benerin listriknya, kamu nonton di rumah sebelah saja”, “yaaah, ya udah deh” Idun lalu keluar dari rumahnya yang sedang di benarkan aliran listriknya itu. Ia menuju rumah tetangganya, yang di huni oleh keluarga Pak Wisman. Sesampai di depan rumah itu, Idun memencet bel. Beberapa kali ia memencet bel, dan tak seorang pun keluar. Karena takut film kartunnya habis, ia masuk saja ke dalam rumah karena memang tidak di kunci. Saat di dalam rumah, tampak tak ada seorang pun. Tak perlu malu Idun yang masih sd itu langsung saja menyalakan tv, dan melanjutkan menonton film kartun kesukaannya.
Beberapa puluh menit berlalu, dan film kartun kesukaan Idun pun usai jam tayangnya. Idun yang masih bingung karena rumah tetangganya itu tak tampak pemiliknya, memilih mengecek rumah itu lebih dalam. Saat sampai di kamar pak Wisman, tampak kosong, sepertinya sedang keluar. Selanjutnya tampak sebuah kamar, dan terdengar suara, saat Idun melihat kedalam kamar lain itu, ternyata tampak seorang perempuan telanjang bulat sedang bermain laptop.
 

“Eh, Idun, ko kamu bisa masuk rumah?”, Idun baru ingat, pak wisman punya anak perempuan seorang mahasiswi bernama Diana. “Eh, maaf mbak, tadi saya mau nonton kartun, listrik mati di rumah, trus mau ke sini pintunya gak di kunci, trus saya nonton tv di bawah”, “ooh, gitu ya”, “mbak Diana kok telanjang?”, “Hehe, lagi pengen aja, kenapa emangnya?” Idun cukup heran, cewe dewasa kok telanjang, dan tampak tidak malu di lihati oleh anak laki laki. “apa gak di ngin mbak?”, “Nggak kok, udah biasa…” Idun sempat tertegun melihat tubuh Diana, tampak payudaranya yang cukup besar dan begitu menarik baginya, juga paha mulus Diana yang menutup selangkangannya. “Mbak, lagi ngerjain apa?”, “ini lagi main game aja, kamu mau main ndak?”, “Boleh dong mbak”, “Ya udah, sini, mbak Diana pangku aja…” Idun sempat malu, namun setelah itu ia sudah ada di pangkuan Diana.
Game dalam laptop itu memang cukup menarik, namun Idun juga bingung saat punggungnya terasa ada yang mendorong, sepertinya suatu benda yang kenyal. “Mainnya yang bener dong dek, sini deh gantian” Diana merebut kemudi permainan game itu, sedang Idun masih berada di pangkuan Diana. Wajah Diana tepat berada di sebelah wajah Idun, anak sd itu sempat tertegun sambil memandangi wajah cantik itu. Diana sempat menoleh, dan melihat Idun yang melongo, “Kok melongo, hmm? Cup” Diana mencium pipi Idun, lalu lanjut bermain game. Anak sd itu masih bingung, entah apa yang membuatnya gelisah. Idun kembali menonton Diana yang bermain game itu, sambil sesekali sibuk memandangi tubuh perempuan yang lebih tua darinya itu.
“Idun, pindah yuk, main laptopnya di kasur aja” Diana lalu berpindah kekasur sambil membawa laptopnya. Perempuan yang telanjang itu merebahkan tubuhnya di kasur, dan menaruh laptopnya di atas buah dada yang indah itu. Idun masih bingung, entah kenapa ia masih berada di rumah itu meski film kartun kesukaannya sudah selesai. “Idun, kok bengong, sini, nonton aku main aja” Idun lalu mendekat, dan merebahkan tubuhnya di sebelah Diana. Idun melihat laptop itu bergoyang goyang, karena berada di atas buah dada kenyal milik Diana. “mbak, laptopnya goyang terus, mana enak mainnya”, “iya, pegangin dong dek, kamu naik di perut aku situ” Idun menurut, ia naik keatas perut Diana yang mulus itu, lalu meraih laptop itu. Tangannya memegang bagian atas laptop itu menahan gerakannya. Entah kenapa Idun merasa burung kecilnya itu tegak di dalam celananya. “Aduh, masih goyang, pegang bawahnya aja dek” Idun lalu memindahkan tangannya, dan sekarang tangannya memegang bagian kanan dan kiri laptop itu. Idun merasakan tangannya yang di bawah menyentuh buah dada kenyal milik Diana. Diana tampak tersenyum sambil bermain game, Idun makin bingung.
“Yee, udah menang banyak nih”, “iya kah? Wah hebat mbak Diana”, “Hehe, laptopnya taruh sana dong, Idun” Idun memindahkan laptop itu, kini Diana yang telanjang bulat itu telentang di atas kasur dengan begitu menggoda. “Sini dek, main yang lebih asyik”, “Main apa nih mbak?”, “Sini, kamu ke atas perutku lagi” Idun menurut, kembali ia mengambil posisi yang sama. “Terus ngapain mbak?”, “Pegang ini yach” Tangan Idun segera dipandu oleh Diana, dan mendarat di buah dada sintal milik Diana. “Terus di apain mbak?”, “Tangan kamu diputer-puter di atas situ ya, coba deh” Idun menurut lagi, kedua tangannya yang menempel di buah dada Diana itu kini berputar putar, menggoyangkan benda kenyal nan montok itu. “Pantes laptopnya goyang mbak, ini kenyal begini, kayak jeli”, “mmmmf…iya… tuh tau…uuuh” Idun bingung, kenapa Diana mendesah. Terus saja Idun memutar mutar buah dada Diana, karena penasaran, Idun menepuk nepuk buah dada itu. “Lucu mbak bunyinya,hehe” Diana makin mendesah, kakinya bergerak gerak. Idun penasaran kenapa ada benda yang mencuat dan mengeras di buah dada Diana. “mbak, ini kok keras begini?” Idun memencet dan memutar mutar puting coklat Diana. “Aaaahn….mmmf… iya, gak papa itu…oooh… puter aja…mmmf” Idun dengan asyik memencet dan memutar mutar puting Diana, lalu ia teringat kalau itu puting ASI. “Ooh, ini yang bisa keluar air susunya itu ya mbak? Idun coba ya… mmmf” Diana mendesah keras, perempuan itu sepertinya keenakan setelah buah dadanya dimainkan oleh Idun. Mulut Idun sekarang sudah menyedot nyedot puting Diana.
“Kok gak keluar susunya ya mbak? Kurang keras ya? Mmmf” Idun menggigit kecil puting coklat Diana. “Aaaahn! Uuuhf….sssh…ooooh” Idun seperti orang bingung, bergantian ia kenyot puting kanan dan puting kiri di payudara Diana itu, anak sd itu juga meremas payudara montok itu. Penis mungil Idun tampak tegak dalam celana itu juga berdenyut menempel ke perut Diana. “Aduh mbak, Idun mau pipis”, “Pipis di sini aja dek, buka aja, oooh” Idun menurut, ia membuka celananya, croot, cairan putih menetes di buah dada Diana. Idun masih bingung karena yang keluar bukan air kencing. “Kok yang keluar putih ya mbak?” Diana lalu mengangkat Idun, dan merebahkan tubuh anak sd itu di kasur, langsung saja penis mungil itu di lahap masuk dalam mulutnya. “mbak, kok burung Idun diemut?” Tanpa menjawab, Diana menjilati burung kecil dalam mulutnya itu dengan hebat, Idun tampak merem melek. Penis Idun kembali tegak, dan terasa begitu nikmat di dalam mulut Diana. “mmm…mmm…slruup…mmm…Lucu ya burung kamu dek..mmm”, “geli mbak, uuuh, mmmf”. Setelah puas menikmati burung mungil milik Idun, Diana duduk dan membuka selangkangannya..
“Idun, sini, liat nih, lubang aku..”, “Lubang apa nih mbak? Kok basah dan terbuka?”, “Sini deketan, kamu pegang aja…” Idun menempelkan jari jarinya ke atas bibir vagina Diana, terasa ada bulu bulu halus di sekitar lubang itu. “ lucu ya mbak, wah, itu ada apa yang kayak kelereng?” Idun mencubit klitoris Diana. “Aaaah! Nakal Idun, tau aja sih kamu”, “Maaf mbak, itu nggemesin soalnya”, “Hehe, jilatin sekalian deh lubang aku dek”, “Emang enak ya mbak?”, “Enak, airnya minum sekalian, enak itu” Idun menurut lagi, Kepalanya melesat ke selangkangan Diana. Mulutnya sudah menempel di lubang itu, dan lidahnya masuk kedalam. Idun langsung menyedot nyedot lubang itu, dan memang ia merasakan air dalam lubang itu cukup berbeda. “mmm…mmm…slruup..mmm… Airnya asem asem gimana gitu…”, “Aaahn, iya terusin dek, kayaknya kamu haus..ooooh” Idun memang tampak haus sekali, segera saja lidahnya bergerak menjilati dinding vagina Diana, sambil menikmati cairan berlendir dalam lubang itu. Diana merem melek sambil memegangi kakinya, saat Idun sibuk menggerakkan kepalanya dan menikmati vagina basah Diana.
“Idun, udah ya, kamu lepas pakaian kamu semua”, “Ngapain mbak?” ,”Udaah, biar cepet selesai permainannya” Idun melepas pakaiannya. Diana lalu kembali tidur di atas kasur, sambil membuka selangkangannya. “Idun, burung kamu masih berdiri kan?”, “Iya ini mbak”, “Masukin ke lubangku yach”, “Bisa ya mbak?”, “BIsa dong, enak loh ntar” Idun menurut, dan cepat saja penis mungil Idun tenggelam dalam memek basah Diana, walau tidak mengisi penuh memek sempit itu. “Aaahn! Geli deh sama burung kecil kamu”, “hangat ya lubangnya mbak Diana”, “Kamu gerakin maju mundur dong dek, uuuh” Idun menggerakkan penisnya maju mundur dalam lubang itu, tentu adegan persetubuhan antara seorang wanita dengan anak kecil ini jarang terjadi. Idun mempercepat gerakan penisnya menusuk memek basah Diana, karena ia merasa burungnya tak begitu sulit untuk bergerak keluar masuk. “Aaaahn…mmmf…uuuh…oooh… terus dek…sssh…ooouuh” Idun memeluk erat tubuh Diana, kepalanya menempel di atas buah dada montok yang bergoyang itu. Penisnya masih bergerak terus, diiringi suara desahan indah Diana dan suara tabrakan tubuh mereka berdua. Idun tidak sadar sudah menyetubuhi perempuan yang lebih tua darinya, dan tentu saja ia senang senang saja. Beberapa menit tak berhenti penis Idun mengobok obok vagina Diana.
“Mbak Diana, Aku mau kencing lagi, aah!” Croot croot croot, Idun mengisi lubang vagina Diana. Setelah itu Idun tergeletak kelelahan di sebelah Diana. Diana lalu berdiri, dan mani Idun menetes keluar dari lubang vagina itu tanpa ada bercak merah, sepertinya keperawanan Diana tidak hilang. “Makasih ya dek, udah mau maen sama mbak Diana”, “Iya mbak, aduh sampe lemes”, “Aduh kaciaan, Sini sini aku peluk…” Diana lalu memeluk erat tubuh Idun di atas kasur itu. “Seru permainannya mbak, hehe”, “Iya dong, hehe, puting aku emut lagi aja dek, biar kamu cepet tidur juga”. Puting Diana kembali dikenyot Idun, sambil tampak dalam pelukan anak sd yang lelah itu mulai tertidur. Diana tersenyum karena hari itu ia mengalami sesuatu yang tak terlupakan sepanjang hidupnya..

NASIP DI PERKOSA DI RUMAH SENDIRI

Aku adalah wanita berumur 25 tahun, sekarang aku tinggal sendirian di rumahku yang terletak di salah satu komplek yang disebut sebagian orang sebagai komplek orang berduit di wilayah Jakarta. Aku adalah janda tanpa anak, suamiku telah meninggal enam bulan yang lalu karena kecelakaan. Saat itu usia perkawinan kami baru menginjak tahun kedua. Rumah yang kutempati ini adalah hadiah perkawinan untukku, suamiku membeli rumah ini atas namaku. “Sebagai bukti ketulusan sayangku padamu” katanya.

Rumah-rumah di komplekku terbilang saling berjauhan karena masing-masing rumah memiliki pekarangan yang luas. Hidup di Jakarta menyebabkan aku juga tidak begitu mengenal tetanggaku. Kami masing-masing memiliki kehidupan sendiri-sendiri.

Sering aku merasa kesepian tinggal sendiri di rumah ini, tapi aku tidak mau menggunakan jasa pramuwisma, aku ingin mengerjakan pekerjaan rumahku sendiri. Alasanku pada mama sih biar aku ada kesibukan di rumah, rasanya lebih enjoy kalau semua dikerjakan sendiri.

Malam itu aku pulang agak larut karena baru pulang dari acara ulang tahun temanku. Setelah mengunci pintu depan aku mencari-cari kontak lampu karena suasana rumahku masih gelap. Aku berangkat dari tadi siang untuk bantu-bantu di acara ulang tahun tersebut. Begitu lampu menyala, aku langsung menuju kamarku untuk mengganti baju yang kotor.

Aku melepaskan seluruh pakaianku lalu menyimpan baju kotorku di keranjang yang memang kusediakan di kamar untuk pakaian kotor. Sungguh aku sekarang telanjang bulat. Aku merasa sendiri di rumahku sehingga aku merasa bebas walaupun ke ruang tengah atau ke dapur dalam keadaan telanjang.

Aku masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badanku. Selesai mandi rasanya badanku terasa segar. Kemudian duduk santai menonton TV di ruang tengah sambil minum susu hangat. Aku hanya melilitkan handuk pada badanku, sambil mengeringkan rambutku dengan kipas angin aku buka channel TV sana-sini. Acaranya tidak ada yang menarik hatiku.

Iseng-iseng aku menonton film BF koleksi suamiku. Aku pernah protes padanya karena dia menonton film begituan. Dia hanya tersenyum dan mengatakan bahwa dia mencari style bercinta untukku. Di film itu pria bule sedang mencumbu seorang wanita asia yang kelihatannya begitu menikmati cumbuan dari pri bule. Aku sedikit terangsang melihat adegan itu, seandainya suamiku masih ada….

Aku melepaskan handuk yang melilit badanku, lalu mengelus-elus payudaraku sendiri dengan lembut. Payudaraku memang tidak begitu besar, tapi suamiku selalu memujiku dengan sebutan montok. Untuk urusan mengurus badan, aku memang agak telaten. Karena bagiku kecantikan wanita dan kemulusan badan itu adalah harga mati. Aku tidak menyadari sama sekali kalau ada sepasang mata yang memperhatikan kegiatanku

Kuelus-elus buah dadaku dengan lembut hingga terus terang menimbulkan rangsangan tersendiri bagiku. Libidoku tiba-tiba datang dan hasratku jadi memuncak, rasanya aku ingin berlama-lama, matakupun tak terasa mulai sayu merem melek merasakan rangsangan.

Kali ini bukan lagi belaian yang kulakukan, tapi aku sudah mulai melakukan remasan ke buah dadaku. Kupilin-pilin puting susuku dengan menggunakan ibu jari dan jari telunjukku. Nikmat sekali rasanya. Tanganku perlahan-lahan turun mengelus-elus selangkanganku. Saat jari-jariku mengenai bibir-bibir vaginaku, aku pun merasakan darah yang mengalir di tubuhku seakan mengalir lebih cepat daripada biasanya.

Aku terangsang sekali, liang vaginaku sudah dibanjiri oleh lendir yang keluar membasahi bibir vaginaku. Lalu jari-jariku kuarahkan ke klitorisku. Kutempelkan dan kugesek-gesek klitorisku dengan jariku sendiri hingga aku pun tak kuasa membendung gejolak dan hasratku yang semakin menggebu. Badanku melengkung merasakan kenikmatan, kukangkangkan pahaku semakin lebar. Jari tengah dan telunjuk tangan kiriku kupakai untuk menyibak bibir vaginaku sambil menggesek-geseknya. Sementara jari tengah dan telunjuk tangan kananku aktif menggosok-gosok klitorisku.

Kualihkan jari tangan kananku ke arah lipatan vaginaku. Ujung jariku mengarah ke pintu masuk liang kenikmatanku, kusorongkan sedikit masuk ke dalam. Liang vaginaku sudah benar-benar basah oleh lendir yang licin hingga dengan mudahnya menyeruak masuk ke dalam liang vaginaku. Kini jari tangan kiriku sudah tidak perlu lagi menyingkap bibir kemaluanku lagi hingga kualihkan tugasnya untuk menggesek-gesek klitorisku.

Kukocokkan jari tangan kananku keluar masuk liang vaginaku. Jari-jariku menyentuh dan menggesek-gesek dinding vaginaku bagian dalam, ujung-ujung jariku menyentuh G-spot, punggung dan kepalaku jadi tersandar kuat pada sofa di ruang tengah, seakan-akan tubuhku melayang-layang dengan kenikmatan tiada tara.

Aku sudah benar-banar mencapai puncaknya untuk menuju klimaks saat ada sesuatu yang rasanya akan meledak keluar dari dalam rahimku, ini pertanda aku akan segera mencapai orgasme. Gesekan jari tangan kiri di klitorisku makin kupercepat lagi, demikian pula kocokan jari tangan kanan dalam vaginaku pun makin kupercepat pula. Untuk menyongsong orgasmeku yang segera tiba, kurasakan kedutan bibir vaginaku yang tiba-tiba mengencang menjepit jari-jariku yang masih berada di dalam liang senggamaku.

Bersamaan dengan itu aku merasakan sesekali ada semburan dari dalam yang keluar membasahi dinding vaginaku. Aku serasa sedang kencing namun yang mengalir keluar lebih kental berlendir, itulah cairan maniku yang mengalir deras.

“AHH……..” aku terpekik, lalu tubuhku bergetar hebat. Setelah beberapa detik baru terasa badanku seperti lemas sekali.

Mataku terpejam sambil menikmati rasa indah yang menjalar di sekujur badanku, tiba-tiba tersa ada benda dingin menempel di leherku. Mataku sedikit terbuka, lalu…..

“ Diam atau lehermu akan terluka.” Suara seorang laki-laki terdengar mengejutkanku. Jantungku rasanya hampir berhenti menyadari ada pria yang menempelkan pisau ke leherku, dan aku dalam keadaan telanjang……..

Aku terdiam tak berdaya ketika dia berusaha mengikat tanganku. Aku takut kalau dia merasa terancam, maka dia akan membunuhku. Matanya jelalatan melihat tubuhku yang tidak tertutup sehelai kain. Terbersit penyesalan dalam hatiku, kenapa aku sangat gegabah. Bagaimana dia masuk ke dalam rumah ini, dan apa yang akan mereka lakukan. Segala macam perasaan dalam diriku saat itu.

“He.. he.. he… cantik, ijinkan aku untuk membantumu menyelesaikan hasrat terpendam dalam dirimu.” Lelaki itu duduk disampingku.

“Nah cantik…. Sekarang Abang akan memuaskanmu.” Laki-laki yang memanggil dirinya Abang kemudian dengan kalemnya dia raih tangan dan pinggangku untuk memelukku. Antara takut dan marah, aku masih berontak dan berusaha melawan. Kutendangkan kakiku ke tubuhnya sekenanya, tetapi.. Ya ampuunn.. Dia sangat tangguh dan kuat bagiku.

Lelaki itu berpostur tinggi pula dan mengimbangi tinggiku, dan usianya yang aku rasa tidak jauh beda dengan usia suamiku disertai dengan otot-otot lengannya yang nampak gempal saat menahan tubuhku yang terus berontak.

Dia lalu menyeretku menuju ke kamar tidurku. Aku setengah dibantingkannya ke ranjang. Dan aku benar-benar terbanting. Dia ikat tanganku ke backdrop ranjang itu. Aku meraung, menangis dan berteriak sejadi-jadinya, tapi hanya terdengar gumaman dari mulutku karena mereka membekap mulutku. hingga akhirnya, sehingga aku menyadari tidak ada gunanya lagi berontak maupun berteriak. Sesudah itu dia tarik tungkai kakiku mengarah ke dirinya. Dia nampak berusaha menenangkan aku, dengan cara menekan mentalku, seakan meniupi telingaku. Dia berbisik dalam desahnya,

“Ayolah cantik, jangan lagi memberontak. Percuma khan, jarak antar rumah di komplek ini cukup berjauhan. Lagian kalaupun ada yang tahu mereka tidak akan berani menggangu”.

Aku berpikir cepat menyadari kata-katanya itu dan menjadi sangat khawatir. Laki-laki ini seakan-akan sengaja memperhitungkan keadaan. Kemudian dengan tersenyum dia benamkan wajahnya ke ketiakku. Dia menciumi, mengecup dan menjilati lembah-lembah ketiakku. Dari sebelah kanan kemudian pindah ke kiri. Menimbulkan rasa geli sekaligus membangkitkan gairah. Tangan-tangannya menjamah dan menelusup kemudian mengelusi pinggulku, punggungku, dadaku. Tangannya juga meremas-remas susuku. Dengan jari-jarinya dia memilin puting-puting susuku. Disini dia melakukannya mulai dengan lembut dan demikian penuh perasaan. Bajingan! Dia pikir bisa menundukkan aku dengan caranya yang demikian itu. Aku terus berontak dalam geliat.. Tetapi aku bagaikan mangsa yang siap diterkam.

Aku sesenggukan melampiaskan tangisku dalam sepi. Tak ada suara dari mulutku yang tersumpal. Yang ada hanya air mataku yang meleleh deras. Aku memandang ke-langit-langit kamar. Aku merasa sakit atas ketidak adilan yang sedang kulakoni. Kini lelaki itu menatapku. Aku menghindari tatapan matanya. Dia menciumi pipiku dan menjilat air mataku,

“Kamu cantik banget….. ” dia berusaha menenangkanku.

Dia juga menciumi tepian bibirku yang tersumpal. Tangannya meraba pahaku dan mulai meraba-raba kulitku yang sangat halus karena tak pernah kulewatkan merawatnya. Lelaki ini tahu kehalusan kulitku. Dia merabanya dengan pelan dan mengelusinya semakin lembut. Betapa aku dilanda perasaan malu yang amat sangat. Hanya suamiku yang melihat auratku selama ini, tiba-tiba ada seorang lelaki asing yang demikian saja merabaiku dan menyingkap segala kerahasiaanku.

Aku merasakan betisku, pahaku kemudian gumpalan bokongku dirambati tangan-tangannya. Pemberontakanku sia-sia. Wajahnya semakin turun mendekat hingga kurasakan nafasnya yang meniupkan angin ke selangkanganku. Lelaki itu mulai menenggelamkan wajahnya ke selangkanganku.

“ Ah…..” Bukan main. Belum pernah ada seorangpun berbuat macam ini padaku. Juga tidak begini suamiku selama ini. Aku tak kuasa menolak semua ini. Segala berontakku kandas. Kemudian aku merasakan lidahnya menyapu pori-pori selangkanganku.

Lidah itu sangat pelan menyapu dan sangat lembut. Darahku berdesir. Duniaku seakan-akan berputar dan aku tergiring pada tepian samudra yang sangat mungkin akan menelan dan menenggelamkan aku. Aku mungkin sedang terseret dalam sebuah arus yang sangat tak mampu kulawan. Aku merasakan lidah-lidah lelaki ini seakan menjadi seribu lidah. Seribu lidah lelaki ini menjalari semua bagian-bagian rahasiaku. Seribu lidah lelaki inilah yang menyeretku ke tepian samudra kemudian menyeret aku untuk tertelan dan tenggelam. Aku tak bisa pungkiri. Aku sedang jatuh dalam lembah nikmat yang sangat dalam.. Aku sedang terseret dan tenggelam dalam samudra nafsu birahiku. Aku sedang tertelan oleh gelombang nikmat syahwatku yang telah enam bulan tidak terlampiaskan semenjak suamiku meninggal.

Dan saat kombinasi lidah yang menjilati selangkanganku dan sesekali dan jari-jari tangannya yang mengelusi paha di wilayah puncak-puncaknya rahasiaku, aku semakin tak mampu menyembunyikan rasa nikmatku. Isak tangisku terdiam, berganti dengan desahan dari balik kain yang menyumpal mulutku. Dan saat kombinasi olahan bibir dan lidah dipadukan dengan bukan lagi sentuhan tetapi remasan pada kemaluanku, desahanku berganti dengan rintihan yang penuh derita nikmat birahi.

Laki-laki itu tiba-tiba mrenggut sumpal mulutku.Dia begitu yakin bahwa aku telah tertelan dalam syahwatku.

“Ayolah, sayang.. mendesahlah.. merintihlah.. Puaskan aku…..”

Aku mendesah dan merintih sangat histeris. Kulepaskan dengan liar derita nikmat yang melandaku. Aku kembali menangis dan mengucurkan air mata. Aku kembali berteriak histeris. Tetapi kini aku menangis, mengucurkan air mata dan berteriak histeris beserta gelinjang syahwatku. Aku meronta menjemput nikmat. Aku menggoyang-goyangkan pinggul dan pantatku dalam irama nafsu birahi yang menerjangku.

Aku tak mampu mengendalikan diriku lagi. Aku bergoncang-goncang mengangkat pantatku untuk mendorong dan menjemputi bibirnya karena kegatalan yang amat sangat pada kemaluanku dilanda nafsu birahi. Dan kurasakan betapa kecupan dan gigitan lidah lelaki ini membuatku seakan-akan menggigil dan gemetar lupa diri.

“Masukin… bang.. auh… aku gak tahan…..” aku mendesah tidak karuan. Akhirnya karena tak mampu aku menahannya lagi aku merintih.

Rintihan itu membuat lelaki itu mendekatkan wajahnya ke wajahku hingga bisa kuraih bibirnya. Aku rakus menyedotinya. Aku berpagut dengan pemerkosaku. Aku melumat mulutnya. Aku benar-benar dikejar badai birahiku. Aku benar-benar dilanda gelombang syahwatku.

Aku betul-betul tidak sabar menunggu dia melepas pakaiannya. Aku masih berkelojotan diranjang. Dan kini aku benar-benar menunggu lelaki itu memasukkan kontolnya ke kemaluanku pula. Aku benar-benar berharap karena sudah tidak tahan merasakan badai birahiku yang demikian melanda seluruh organ-organ peka birahi di tubuhku. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang sama sekali diluar dugaanku. Aku sama sekali tak menduga, karena memang aku tak pernah punya dugaan sebelumnya. Kemaluan lelaki ini demikian gedenya.

Rasanya ingin tanganku meraihnya, namun belum lepas dari ikatan dasi di backdrop ranjang ini. Yang akhirnya kulakukan adalah sedikit mengangkat kepalaku dan berusaha melihat kemaluan itu. Ampuunn.. Sungguh mengerikan. Rasanya ada pisang ambon gede dan panjang yang sedang dipaksakan untuk menembusi memekku. Aku menjerit tertahan. Tak lagi aku sempat memandangnya.

Lelaki ini sudah langsung menerkam kembali bibirku. Dia kini berusaha menjulurkan lidahnya di rongga mulutku sambil menekankan kontolnya untuk menguak bibir vaginaku. Kini aku dihadapkan kenyataan betapa besar kontol di gerbang kemaluanku saat ini. Aku sendiri sudah demikian dilanda birahi dan tanpa malu lagi mencoba merangsekkan lubang kemaluanku.Cairan-cairan kewanitaanku membantu kontol itu memasuki kemaluanku.

“Blesek……..Blesek………. Ohh…… Kenapa sangat nikmat begini…….. Oh aku sangat merindukan kenikmatan ini…..” Aku semakin meracau.

Sensasi cengkeraman kemaluanku pada bulatan keras batang besar kontol lelaki ini sungguh menyuguhkan fantasy terbesar dalam seluruh hidupku selama ini. Aku rasanya terlempar melayang kelangit tujuh. Aku meliuk-liukkan tubuhku, menggeliat-liat, meracau dan mendesah dan merintih dan mengerang dan.. Aku bergoncang dan bergoyang tak karuan…. Orgasmeku dengan cepat menghampiri dan menyambarku. Aku kelenger dalam kenikmatan tak terhingga.. Aku masih kelenger saat dia mengangkat salah satu tungkai kakiku untuk kemudian dengan semakin dalam dan cepat menggenjoti hingga akhirnya muntah dan memuntahkan cairan panas dalam rongga kemaluanku.

“Auh………. AHH…… “ aku menjerit merasakan gelombang-gelombang listrik kenikmatan menjalar di sekujur tubuhku.

Kami langsung roboh. Hening sesaat. Aneh, aku tak merasa menyesal, tak merasa khawatir, tak merasa takut. Ada rasa kelapangan dan kelegaan yang sangat longgar. Aku merasakan seakan menerima sesuatu yang sangat aku rindukan selama ini. Apakah aku memang hipersex atau memang karena lelaki ini memang tangguh dan pandai bercinta. Ah aku tidak mau berfikir lagi.. Akupun tertidur kelelahan.

Besok pagi aku terbangun dengan badan sedikit pegal-pegal. Tidak ada tanda-tanda dia masih ada di rumah. Dan kuperiksa tidak ada barang yang hilang. Apakah dia memang datang untuk memperkosaku?…. kadang-kadang aku masih inigin melakukan hal yang sama. Aku merindukan kontolnya yang telah membuatku mencapai kenikmatan tertinggi dalam bercinta. Dimanakah kamu……… 

ADIK KU MANIS AKU PERKOSA

Perkenalkan namaku ricky umurku 24 thn aku mempunyai adik yg bernama desy umurnya baru 13 thn dia masih duduk dibangku kelas 2 SMP adikku ini suka memakai jilbab,payudaranya juga cukup besar,dan pantatnya itu loh membuat bergairah. Aku tidur 1 kamar dengannya. Aku pernah melakukan hal yg aneh saat dia sedang tidur dan aku beronani disamping dia sambil membayangkan tubuh adikku ini lalu aku memuncratkan spermaku di jilbab adikku tanpa sepengetahuan desy adikku.

***********

Saat itu desy baru pulang sekolah tubuhnya berkeringat dia setelah menaruh tas dan melepas sepatunya desy langsung tiduran dikasur bersamaku karna saat itu aku sedang tiduran. Singkat cerita saat dia sudah tertidur pulas aku melepas kancing baju sragamnya tanpa melepas bajunya hanya kancingnya saja yg aku buka,lalu aku mengambil tali setelah itu aku mengikat ke2 tangan dan kakinya disudut tempat tidur. Aku langsung melepas semua bajuku lalu desy aku bangunkan dan berkata
Desy:kak apa2an ini aku mau km apain kak?
Aku:diem aja km dan mulai skrg km hrs turutin apa perintahku ngerti kalo tidak aku bakal memperkosa km sampai memek km sakit ngerti?
Desy:i...iya kak..

Desy yg dari tadi menangis langsung aku suruh ngisep penis ku dan dia menghisapnya sampai akhirnya sekitar 3 menit aku memuncratkan spermaku ke dlm mulutnya dan aku menyuruhnya menelannya. Lalu tanpa berlama2 aku langsung menyingkapkan rok panjang milik desy dan ternyata desy tdk memakai CD dan langsung saja aku memasukkan penisku ke vagina desy "ahh,,kak,,pel,,ann,,sakit kak,,,"kata desy,tapi aku tdk memperdulikan itu terus saja aku pompa penisku di dlm vagina desy sampai akhirnya "crot,,crott,,crot" aku muncratkan spermaku di dlm vagina desy dan ku cabut penisku dari dlm vagina desy dan terlihat spermaku meleleh kluar sedikit dari vagina desy bercampur darah prawan desy lalu aku mengelap sperma yg kluar dari vagina desy dengan jilbabnya.

Sampai saat ini aku sering sekali ML dengan adikku desy dan saat dia mens aku menyodomi desy sampai saat ini anusnya sedikit menganga.

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda